www.ziddu.com

Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 September 2010

Komunikasi Terapetik

Komunikasi Terapetik
Tinjauan Umum tentang Komunikasi

1.Pengertian

Ada beberapa pengertian tentang komunikasi :
a.Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide/gagasan (Oxford Dictionary)
b.Komunkasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan pada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku
c.Komunkasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi non verbal, dan komunikasi abstrak.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan atau informasi dari seseorang kepada orang lain baik secara verbal maupun nonverbal.
Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan menggunakan symbol, tanda, atau tingkah laku.

2.Unsur-unsur Komunikasi

Unsur-unsur komunikasi adalah ; komunikator, pesan, komunikan, media, dan respon atau umpan balik.
a.Komunikator.
Komunikator atau orang yang menyampaikan pesan harus berusaha merumuskan isi pesan yang akan disampaikan. Sikap dari komunikator harus empati, jelas. Kejelasan kalimat dan kemudahan bahasa akan sangat mempengaruhi penerimaan pesan oleh komunikan.
b.Pesan
Pesan adalah pernyataan yang didukung oleh lambang. Lambang bahasa dinyatakan baik lisan maupun tulisan. Lambang suara berkaitan dengan intonasi suara. Lambang gerak adalah ekspresi wajah dan gerakan tubuh, sedangkan lambang warna berkaitan dengan pesan yang disampaikan melalui warna tertentu yang mempunyai makna, yang sudah diketahui secara umum, misalnya merah, kuning, dan hijau pada lampu lalu lintas.
c.Komunikan
Komunikan adalah penerima pesan. Seorang penerima pesan harus tanggap atau peka dengan pesan yang diterimanya dan harus dapat menafsirkan pesan yang diterimanya. Satu hal penting yang harus diperhatikan adalah persepsii komunikan terhadap pesan harus sama dengan persepsi komunikator yang menyampaikan pesan.
d.Media
Media adalah sarana atau saluran dari komunikasi. Bisa berupa media cetak, audio, visual dan audio-visual. Gangguan atau kerusakan pada media akan mempengaruhi penerimaan pesan dari komunikan.
e.Respon/umpan balik.
Respon atau umpan balik adalah reaksi komunikan sebagai dampak atau pengaruh dari pesan yang disampaikan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Umpan balik langsung disampaikan komunikan secara verbal, yaitu dengan kalimat yang diucapkan langsung dan nonverbal melalui ekspresi wajah atau gerakan tubuh. Umpan balik secara tidak langsung dapat berupa perubahan perilaku setelah proses komunikasi berlangsung, bisa dalam waktu yang relative singkat atau bahkan memerlukan waktu cukup lama.

3.Faktor yang mempengaruhi komunikasi

a.Situasi/suasana
Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan, suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima. Oleh karena itu, sebelum proses komunikasi dilaksanakan, lingkungan harus diciptakan sedemikian rupa supaya tenang dan nyaman.
Komunikasi yang berlangsung dan dilakukan pada waktu yang kurang tepat mungkin diterima dengan kurang tepat pula. Misalnya, apabila perawat memberikan penjelasan kepada orang tua tentang cara menjaga kesterilan luka pada saat orang tua sedang sedih, tentu saja pesan tersebut kurang diterima dengan baik oleh orang tua karena perhatian orang tua tidak berfokus pada pesan yang disampaikan perawat, melainkan pada perasaan sedihnya.

b. Kejelasan pesan
Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan. Hal ini akan sangat mempengaruhi pencapaian tujuan komunikasi yang dijalankan. Oleh karena itu, komunikator harus memahami pesan sebelum menyampaikannya pada komunikan, dapat dimengerti komunikan dan menggunakan artikulasi dan kalimat yang jelas.

4. Tehnik Komunikasi yang efektif
a.Yakinkan apa yang akan dikomunikasikan dan bagaimana mengkomunikasikannya. Hal yang berkaitan dengan kejelasan pesan yang ingin disampaikan.
b.Gunakan bahasa yang jelas dan dapat dimengerti komunikan. Seringkali perawat menemui pesan yang tidak dapat berbahasa Indonesia, sedangkan perawat itu sendiri tidak dapat berbahasa seperti pasien. Dalam kondisi seperti ini, orang ketiga diperlukan untuk menjembatani proses komunikasi tersebut.
c.Gunakan media komunikasi yang tepat dan adekuat. Media tertentu tepat digunakan untuk komunikasi tertentu. Perawat yang sedang memberi penyuluhan pada satu orang pasien tidak perlu menggunakan flip chart, tetapi cukup dengan brosur atau leaflet. Sebaliknya dalam satu kegiatan penyuluhan pada 25 orang tidak cukup hanya dengan brosur saja, tetapi diperlukan media yang tepat seperti flip chart atau film.
d.Ciptakan iklim komunikasi yang baik dan tepat. Untuk berlangsungnya proses komunikasi yang efektif diperlukan suasana tenang dan tidak bising. Akan lebih baik lagi apabila disertai dengan udara yang nyaman dan tidak terlalu panas.
e.Dengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang sedang diutarakan komunikan karena apa yang diutarakan komunikan adalah umpan balik terhadap pesan yang diberikan komunikator.
f.Hindarkan komunikasi yang tidak disengaja. Setiap proses komunikasi yang dijalankan hendaknya mempunyai tujuan yang jelas dan dilakukan dengan berencana.
g.Ingat bahwa komunikasi adalah proses dua arah, yaitu harus terjadi umpan balik antara komunikator dan komunikan.
h.Yakinkan bahwa tindakan yang dilakukan tidak kontradiksi dengan apa yang diucapkan. Dengan kata lain ekspresi verbal harus sesuai dengan ekspresi non verbal. Hindari mengatakan saya turut berbahagia tetapi dengan ekspresi wajah yang datar dan tidak menunjukkan rasa bahagia.

B.Tinjauan Umum tentang Komunikasi Terapeutik.

A.Pengertian

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang mendorong proses penyembuhan klien (Depkes RI, 1997). Dalam pengertian lain mengatakan bahwa komunikasi terapeutik adalah proses yang digunakan oleh perawat memakai pendekatan yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan pada klien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antara perawat dengan klien. Persoalan yang mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling membutuhkan antara perawat dan klien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan klien, perawat membantu dan klien menerima bantuan.

Menurut Stuart dan Sundeen (dalam Hamid, 1996), tujuan hubungan terapeutik diarahkan pada pertumbuhan klien meliputi :
a.Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghormatan terhadap diri.
b.Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri.
c.Kemampuan untuk membina hubungan interpersonal yang intim dan saling dengan kapasitas untuk mencintai dan dicintai.
d.Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan personal yang realistik.

Tujuan komunikasi terapeutik adalah :
a.Membantu klien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila klien percaya pada hal yang diperlukan.
b.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
c.Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Tujuan terapeutik akan tercapai bila perawat memiliki karakteristik sebagai berikut (Hamid, 1998) :


a.Kesadaran diri.
b.Klarifikasi nilai.
c.Eksplorasi perasaan.
d.Kemampuan untuk menjadi model peran.
e.Motivasi altruistik.
f.Rasa tanggung jawab dan etik.

B.Komponen Komunikasi Terapeutik

Model struktural dari komunikasi mengidentifikasi lima komponen fungsional berikut (Hamid, 1998) :
a.Pengirim : yang menjadi asal dari pesan.
b.Pesan : suatu unit informasi yang dipindahkan dari pengirim kepada penerima.
c.Penerima : yang mempersepsikan pesan, yang perilakunya dipengaruhi oleh pesan.
d.Umpan balik : respon dari penerima pesan kepada pengirim pesan.
e.Konteks : tatanan di mana komunikasi terjadi.
Jika perawat mengevaluasi proses komunikasi dengan menggunakan lima elemen struktur ini maka masalah-masalah yang spesifik atau kesalahan yang potensial dapat diidentifikasi.
Menurur Roger, terdapat beberapa karakteristik dari seorang perawat yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik.Karakteristik tersebut antara lain : (Suryani,2005).
a.Kejujuran (trustworthy). Kejujuran merupakan modal utama agar dapat melakukan komunikasi yang bernilai terapeutik, tanpa kejujuran mustahil dapat membina hubungan saling percaya. Klien hanya akan terbuka dan jujur pula dalam memberikan informasi yang benar hanya bila yakin bahwa perawat dapat dipercaya.
b.Tidak membingungkan dan cukup ekspresif. Dalam berkomunikasi hendaknya perawat menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien. Komunikasi nonverbal harus mendukung komunikasi verbal yang disampaikan. Ketidaksesuaian dapat menyebabkan klien menjadi bingung.
c.Bersikap positif. Bersikap positif dapat ditunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Roger menyatakan inti dari hubungan terapeutik adalah kehangatan, ketulusan, pemahaman yang empati dan sikap positif.
d.Empati bukan simpati. Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. Dengan empati seorang perawat dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien, karena meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya, tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga perawat dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif. Sikap simpati membuat perawat tidak mampu melihat permasalahan secara objektif karena dia terlibat secara emosional dan terlarut didalamnya.
e.Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien.Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat harus berorientasi pada klien, (Taylor, dkk ,1997) dalam Suryani 2005. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien perawat harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. Untuk itu perawat harus menggunakan terkhnik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. Jika perawat menyimpulkan secara tergesa-gesa dengan tidak menyimak secara keseluruhan ungkapan klien akibatnya dapat fatal, karena dapat saja diagnosa yang dirumuskan perawat tidak sesuai dengan masalah klien dan akibatnya tindakan yang diberikan dapat tidak membantu bahkan merusak klien.
f.Menerima klien apa adanya.Jika seseorang diterima dengan tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan intim terapeutik. Memberikan penilaian atau mengkritik klien berdasarkan nilai-nilai yang diyakini perawat menunjukkan bahwa perawat tidak menerima klien apa adanya.
g.Sensitif terhadap perasaan klien. Tanpa kemampuan ini hubungan yang terapeutik sulit terjalin dengan baik, karena jika tidak sensitif perawat dapat saja melakukan pelanggaran batas, privasi dan menyinggung perasaan klien.
h.Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri. Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi perawat untuk membantu klien, jika ia sendiri memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya.

C.Fase Hubungan Komunikasi Terapeutik.

Struktur dalam komunikasi terapeutik, menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari empat fase yaitu: (1) fase preinteraksi; (2) fase perkenalan atau orientasi; (3) fase kerja; dan (4) fase terminasi (Suryani,2005). Dalam setiap fase terdapat tugas atau kegiatan perawat yang harus terselesaikan.

a.Fase preinteraksi
Tahap ini adalah masa persiapan sebelum memulai berhubungan dengan klien. Tugas perawat pada fase ini yaitu :
1)Mengeksplorasi perasaan,harapan dan kecemasannya;
2)Menganalisa kekuatan dan kelemahan diri, dengan analisa diri ia akan terlatih untuk memaksimalkan dirinya agar bernilai tera[eutik bagi klien, jika merasa tidak siap maka perlu belajar kembali, diskusi teman kelompok;
3)Mengumpulkan data tentang klien, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi;
4)Membuat rencana pertemuan secara tertulis, yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.

b.Fase orientasi
Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali dengan klien. Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan merupakan langkah awal dalam membina hubungan saling percaya. Tugas utama perawat pada tahap ini adalah memberikan situasi lingkungan yang peka dan menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dan pikirannya. Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain :
1). Membina hubungan saling percaya, menunjukkan sikap penerimaan dan komunikasi terbuka. Untuk membina hubungan saling percaya perawat harus bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima klien apa danya, menepati janji, dan menghargai klien;
2)Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak penting untuk menjaga kelangsungan sebuah interaksi.Kontrak yang harus disetujui bersama dengan klien yaitu, tempat, waktu dan topik pertemuan;
3)Menggali perasaan dan pikiran serta mengidentifikasi masalah klien. Untuk mendorong klien mengekspresikan perasaannya, maka tekhnik yang digunakan adalah pertanyaan terbuka;
4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan dirumuskan setelah masalah klien teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai akan menimbulkan kegagalan pada keseluruhan interaksi (Stuart,G.W,1998 dikutip dari Suryani,2005)

Hal yang perlu diperhatikan pada fase ini antara lain :
1) Memberikan salam terapeutik disertai mengulurkan tangan jabatan tangan
2) Memperkenalkan diri perawat
3) Menyepakati kontrak. Kesepakatan berkaitan dengan kesediaan klien untuk berkomunikasi, topik, tempat, dan lamanya pertemuan.
4)Melengkapi kontrak. Pada pertemuan pertama perawat perlu melengkapi penjelasan tentang identitas serta tujuan interaksi agar klien percaya kepada perawat.
5)Evaluasi dan validasi. Berisikan pengkajian keluhan utama, alasan atau kejadian yang membuat klien meminta bantuan. Evaluasi ini juga digunakan untuk mendapatkan fokus pengkajian lebih lanjut, kemudian dilanjutkan dengan hal-hal yang terkait dengan keluhan utama. Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi digunakan untuk mengetahui kondisi dan kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya.
6)Menyepakati masalah. Dengan tekhnik memfokuskan perawat bersama klien mengidentifikasi masalah dan kebutuhan klien.
Selanjutnya setiap awal pertemuan lanjutan dengan klien lakukan orientasi. Tujuan orientasi adalah memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat dengan keadaan klien saat ini dan mengevaluasi tindakan pertemuan sebelumnya.

c.Fase kerja.
Tahap ini merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi teraeutik.Tahap ini perawat bersama klien mengatasi masalah yang dihadapi klien.Perawat dan klien mengeksplorasi stressor dan mendorong perkembangan kesadaran diri dengan menghubungkan persepsi, perasaan dan perilaku klien.Tahap ini berkaitan dengan pelaksanaan rencana asuhan yang telah ditetapkan.Tekhnik komunikasi terapeutik yang sering digunakan perawat antara lain mengeksplorasi, mendengarkan dengan aktif, refleksi, berbagai persepsi, memfokuskan dan menyimpulkan (Geldard,D,1996, dikutip dari Suryani, 2005).
d.Fase terminasi
Fase ini merupakan fase yang sulit dan penting, karena hubungan saling percaya sudah terbina dan berada pada tingkat optimal. Perawat dan klien keduanya merasa kehilangan. Terminasi dapat terjadi pada saat perawat mengakhiri tugas pada unit tertentu atau saat klien akan pulang. Perawat dan klien bersama-sama meninjau kembali proses keperawatan yang telah dilalui dan pencapaian tujuan. Untuk melalui fase ini dengan sukses dan bernilai terapeutik, perawat menggunakan konsep kehilangan.
Terminasi merupakan akhir dari pertemuan perawat, yang dibagi dua yaitu:
1) Terminasi sementara, berarti masih ada pertemuan lanjutan;
2) Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah menyelesaikan proses keperawatan secara menyeluruh.
Tugas perawat pada fase ini yaitu :
a) Mengevaluasi pencapaian tujuan interaksi yang telah dilakukan, evaluasi ini disebut evaluasi objektif. Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan bahwa meminta klien menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan atau respon objektif setelah tindakan dilakukan sangat berguna pada tahap terminasi (Suryani,2005);
b)Melakukan evaluasi subjektif, dilakukan dengan menanyakan perasaan klien setalah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan tertentu;
c)Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Hal ini sering disebut pekerjaan rumah (planning klien). Tindak lanjut yang diberikan harus relevan dengan interaksi yang baru dilakukan atau yang akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak akan pernah kosong menerima proses keperawatan dalam 24 jam;
d)Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya, kontrak yang perlu disepakati adalah topik, waktu dan tempat pertemuan. Perbedaan antara terminasi sementara dan terminasi akhir, adalah bahwa pada terminasi akhir yaitu mencakup keseluruhan hasil yang telah dicapai selama interaksi.
C.Sikap Komunikasi Terapeutik.

Lima sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik yang dapat memfasilitasi komunikasi yang terapeutik menurut Egan, yaitu :
1.Berhadapan. Artinya dari posisi ini adalah “Saya siap untuk anda”.
2.Mempertahankan kontak mata. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.
3.Membungkuk ke arah klien. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu.
4.Mempertahankan sikap terbuka, tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi.
5.Tetap rileks. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon kepada klien.
Selain hal-hal di atas sikap terapeutik juga dapat teridentifikasi melalui perilaku non verbal. Stuart dan Sundeen (1998) mengatakan ada lima kategori komunikasi non verbal, yaitu :
1.Isyarat vokal, yaitu isyarat paralingustik termasuk semua kualitas bicara non verbal misalnya tekanan suara, kualitas suara, tertawa, irama dan kecepatan bicara.
2. Isyarat tindakan, yaitu semua gerakan tubuh termasuk ekspresi wajah dan sikap tubuh.
3.Isyarat obyek, yaitu obyek yang digunakan secara sengaja atau tidak sengaja oleh seseorang seperti pakaian dan benda pribadi lainnya.
4.Ruang memberikan isyarat tentang kedekatan hubungan antara dua orang. Hal ini didasarkan pada norma-norma social budaya yang dimiliki.
5.Sentuhan, yaitu fisik antara dua orang dan merupakan komunikasi non verbal yang paling personal. Respon seseorang terhadap tindakan ini sangat dipengaruhi oleh tatanan dan latar belakang budaya, jenis hubungan, jenis kelamin, usia dan harapan.

D.Teknik Komunikasi Terapeutik.

Ada dua persyaratan dasar untuk komunikasi yang efektif (Stuart dan Sundeen, 1998) yaitu :
1.Semua komunikasi harus ditujukan untuk menjaga harga diri pemberi maupun penerima pesan.
2.Komunikasi yang menciptakan saling pengertian harus dilakukan lebih dahulu sebelum memberikan saran, informasi maupun masukan.
Stuart dan Sundeen, (1998) mengidentifikasi teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut :

1.Mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dalam hal ini perawat berusaha mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien. Mendengar merupakan dasar utama dalam komunikasi. Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk berbicara. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif.
2.Menunjukkan penerimaan.
Menerima tidak berarti menyetujui, menerima berarti bersedia untuk mendengarkan orang lain tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan.

3.Menanyakan pertanyaan yang berkaitan.
Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yang spesifik mengenai apa yang disampaikan oleh klien.

4.Mengulangi ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri.
Melalui pengulangan kembali kata-kata klien, perawat memberikan umpan balik bahwa perawat mengerti pesan klien dan berharap komunikasi dilanjutkan.

5.Mengklasifikasi.
Klasifikasi terjadi saat perawat berusaha untuk menjelaskan dalam kata-kata ide atau pikiran yang tidak jelas dikatakan oleh klien.

6.Memfokuskan.
Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.

7.Menyatakan hasil observasi.
Dalam hal ini perawat menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non verbal klien.
8.Menawarkan informasi.
Memberikan tambahan informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien yang bertujuan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan.

9.Diam.
Diam akan memberikan kesempatan kepada perawat dan klien untuk mengorganisir. Diam memungkinkan klien untuk berkomunikasi dengan dirinya sendiri, mengorganisir pikiran dan memproses informasi.

10.Meringkas.
Meringkas pengulangan ide utama yang telah dikomunikasikan secara singkat.

11.Memberi penghargaan.
Penghargaan janganlah sampai menjadi beban untuk klien dalam arti jangan sampai klien berusaha keras dan melakukan segalanya demi untuk mendapatkan pujian dan persetujuan atas perbuatannya.

12.Memberi kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan.
Memberi kesempatan kepada klien untuk berinisiatif dalam memilih topik pembicaraan.

13.Menganjurkan untuk meneruskan pembicaraan.
Teknik ini memberikan kesempatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.

14.Menempatkan kejadian secara berurutan.
Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihatnya dalam suatu perspektif.

15.Memberikan kesempatan kepada klien untuk menguraikan persepsinya
Apabila perawat ingin mengerti klien, maka perawat harus melihat segala sesuatunya dari perspektif klien.

16.Refleksi.
Refleksi memberikan kesempatan kepada klien untuk mengemukakan dan menerima ide dan perasaannya sebagai bagian dari dirinya sendiri.
E.Hambatan Komunikasi Terapeutik.

Hambatan komunikasi terapeutik dalam hal kemajuan hubungan perawat-klien terdiri dari tiga jenis utama : resistens, transferens, dan kontertransferens (Hamid, 1998). Ini timbul dari berbagai alasan dan mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda, tetapi semuanya menghambat komunikasi terapeutik. Perawat harus segera mengatasinya. Oleh karena itu hambatan ini menimbulkan perasaan tegang baik bagi perawat maupun bagi klien. Untuk lebih jelasnya marilah kita bahas satu-persatu mengenai hambatan komunikasi terapeutik itu.

1.Resisten.
Resisten adalah upaya klien untuk tetap tidak menyadari aspek penyebab ansietas yang dialaminya. Resisten merupakan keengganan alamiah atau penghindaran verbalisasi yang dipelajari atau mengalami peristiwa yang menimbulkan masalah aspek diri seseorang. Resisten sering merupakan akibat dari ketidaksediaan klien untuk berubah ketika kebutuhan untuk berubah telah dirasakan. Perilaku resistens biasanya diperlihatkan oleh klien selama fase kerja, karena fase ini sangat banyak berisi proses penyelesaian masalah.

2.Transferens.
Transferens adalah respon tidak sadar dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang pada dasarnya terkait dengan tokoh dalam kehidupannya di masa lalu. Sifat yang paling menonjol adalah ketidaktepatan respon klien dalam intensitas dan penggunaan mekanisme pertahanan pengisaran (displacement) yang maladaptif. Ada dua jenis utama reaksi bermusuhan dan tergantung.

3.Kontertransferens.
Yaitu kebuntuan terapeutik yang dibuat oleh perawat bukan oleh klien. Konterrtransferens merujuk pada respon emosional spesifik oleh perawat terhadap klien yang tidak tepat dalam isi maupun konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam intensitas emosi. Reaksi ini biasanya berbentuk salah satu dari tiga jenis reaksi sangat mencintai, reaksi sangat bermusuhan atau membenci dan reaksi sangat cemas sering kali digunakan sebagai respon terhadap resisten klien.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi terapeutik, perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawat-klien (Hamid, 1998). Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative pada proses terapeutik.

SUMBER:

Cangara, Hafid. (2006), Pengantar Ilmu Komunikasi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Ellis,R.,Gates, R, & Kenworthy,N. (2000). Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik.Alih Bahasa :Susi Purwoko. Jakarta,EGC.
Keliat, B.A. (2002), Hubungan Terapeutik Perawat-Klien, EGC, Jakarta.
Notoatmodjo, S 1997, Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Purwanto, H. (1998). Komunikasi untuk Perawat. EGC, Jakarta.
Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta.
Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.(1998) . Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3.

Komunikasi Massa

KOMUNIKASI MASSA

Pendahuluan
 Dilihat dari segi proses komunikasi pada dasarnya komunikasi massa tidak berbeda dengan proses-proses komunikasi yang lainnya
 Wilbur Schram menyatakan bahwa perbedaan antara proses komunikasi massa dengan yang lainnya adalah:
Sifat-sifat yang terkandung di dalam proses komunikasi massa yaitu bahwa sumbernya lebih banyak bersifat terorganisasikan dan terlembagakan kemudian disalurkan melalui media massa secara masal dan ditujukan kepada orang yang bersifat anonim dan heterogen
Charles Wright (1959) mengidentifikasikan beberapa karakteristik komunikasi massa :
1. Komunikasi massa ditujukan kepada sasaran yang jumlahnya besar atau luas,umumnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat (heterogen) dan tidak dikenal (anonim)
2. Kegiatanya dilakukan secara cepat dan waktu-waktu tertentu
3. Komunikator dilakukan oleh suatu bentuk organisasi
4. Pesan-pesan disiarkan secara umum (publicly) sering tertentukan waktunya untuk mencapai sebagian besar sasaran secara serempak (simultan)

Media massa terdiri dari
1. Media tercetak atau cetakan yaitu surat kabar, majalah, buku, pamflet, billboard, dll
2. Media elektronik yaitu radio, film, internet dsb


Model-Model Komunikasi Massa
1. Model jarum hipodermis (Hypodermic needle model)
- Pada hakekatnya adalah model komunikasi searah
- Model ini beranggapan bahwa mwdia massa mempunyai pengaruh langsung, sangat kuat, segera atau cepat, sangat menentukan terhadap sasaran dan hampir tak ada kekuatan apapun yang menghambatnya
 Disini media massa digambarkan sebagai jarum raksasa yang menyuntik sasaran yang pasif
 Model ini menurut para peneliti terdahulu didasarkan pada anggapan bahwa :
a. Media yang sangat berpengaruh mampu memakksakan kehendaknya pada sasaran yang sama sekali tidak berusaha mencoba berfikir lain
b. Sasaran dianggap tidak mempunyai hubungan satu sama lain terikat pada media massa tetapi tidak terikat pada kelompoknya
2. Model Komunikasi 2 tahap
- Tahap pertama adalah pengalihan informasi dari media massa kepada para pemuka pendapat dan ini merupakan bentuk komunikasi massa
- Tahap kedua dari pemuka pendapat kepada para pengikutnya atau anggota masyarakat lainnya selain merupakan pengalihan informasi, yang lebih penting ialah merupakan penyebarluasan pengaruh ini bukan lagi berbentuk komunikasi massa tetapi komunikasi antar personal
3. Model Komunikasi Satu Tahap
Model ini merupakan penyempurnaan dari pada model jarum hipodermis .Model satu tahap ini beranggapan bahwa media massa langsung berpengaruh pada sasaran tanpa melalui pemuka pendapat.Bedanya dengan jarum hypodermis ialah :
 Model komunikasi satu tahap mengakui bahwa tidak semua media memiliki kekuatan pengaruh yang sama
 Model ini memperhitungkan peranan selektifitas sebagai faktor yang menentukan penerimaan sasaran. Artinya sasaran memilih-milih media massa atau isinya, sasaran berbeda-beda persepsi dan kemampuannya mengingat pesan
 Model ini mengakui pula kemungkinan timbulnya dampak yang berbeda pada sasaran dari pesan yang sama
4. Model Komunikasi Banyak Tahap
Model ini mencakup semua model yang dibicarakan terdahulu.
Model ini dikembangkan berdasarkan pengertian bahwa pada kebanyakan komunikasi terjadi suatu fungsi penyebaran informasi secara estafet kepada sasaran yang jumlahnya besar

Komunikasi Massa Yang Efektif
Yang Perlu diperhatikan :
1. Mencakup sasaran yang luas
2. Latar belakang sasaran lebih banyak variasinya
3. Komunikasi biasanya dilaksanakan dari jarak jauh, tidak berhadap - hadapan
4. Tidak ada umpan balik (feedback) langsung


Manfaat Komunikasi Massa
 Menyebarluaskan informasi
 Memperluas wawasan
 Dapat memusatkan atau mengalihkan perhatian masyarakat
 Dapat menggali aspirasi masyarakat
 Dapat merubah sikap masyarakat yang tidak begitu kuat
 Dapat mesuplay informasi kepada komunikasi antar personal
 Dapat memberikan atau meningkatkan status seseorang
 Dapat mendukung berlakunya suatu norma
 Dapat menciptakan selera
 Dalam pendidikan,media massa tidak dapat berperan sendiri
Pesan
 Pengertian : Informasi yang dirumuskan dan disampaikan
 Syarat-syarat pesan yang baik :
- Jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele
- Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa yang dipahami
benar oleh sasaran
- Singkat, tidak terlalu banyak sekaligus
- Pesan bisa diterima
- Isi pesan bisa dilaksanakan oleh sasaran
- Pesan disajikan secara menarik
- Selain menarik penyajian pesan harus bisa memotivasi sasaran

Komunikasi Interpersonal

KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Pengertian komunikasi Interpersonal
Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.
Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:
• Persepsi Interpersonal
• Konsep Diri
• Atraksi Interpersonal
• Hubungan Interpersonal.
Dalam tulisan ini, Tim Penulis hanya menjelaskan point hubungan interpersonalnya saja. Karena Tim Penulis beranggapan, pembahasannya terlalu rumit dan dianggap dalam point hubungan interpersonal pembahasannya jelas sehingga mudah dimengerti.
Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.
2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-individu (Littlejohn, 1999).
Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, seperti suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, seorang guru dengan seorang muridnya, dan sebagainya.
Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) mengatakan ciri-ciri komunikasi diadik adalah:
• Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat;
• Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal.
Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima lat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi, ataupun lewat teknologi tercanggihpun.
Jalaludin Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.
• Persepsi interpersonal
Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.
• Konsep diri
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b. Merasa stara dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:
1. Nubuat yang dipenuhi sendiri. Karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.
2. Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru.
3. Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
4. Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).
• Atraksi interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal:
1. Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
2. Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila berkumpul dengan denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.
• Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi. Miller (1976) dalam Explorations in Interpersonal Communication, menyatakan bahwa ”Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara komunikasi dan perkembangan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.”
Lebih jauh, Jalaludin Rakhmat (1994) memberi catatan bahwa terdapat tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu: a. Percaya; b. sikap suportif; dan c. sikap terbuka.
Daftar pustaka
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Littlejohn, 1999, Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Komunikasi Harmonis

Komunikasi Harmonis

Proses penyampaian pesan antara pengirim & penerima pesan dilandaskan Rasa saling memahami & melengkapi unt mencapai kesepahaman antara pengirim dan penerima pesan.
Komunikasi yg harmonis dibangun atas dasar hubungan manusiawi yg utuh dari berbagai dimensi.
Bukan pada hubungan formalitas apalagi hiasan bibir semata.

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA TERTULIS
- menggunakan tulisan yg mudah dibaca
- menggunakan kata-kata yg sederhana, umum dan tidak bertele-tele
- fokus pd pesan yg ingin disampaikan
- beri ilustrasi (bagian,denah, sketsa) bila perlu.

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA NON VERBAL
- pastikan penerima pesan mengerti isyarat yg digunakan
- pergunakan semua indera secara maksimal

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA VERBAL
Supaya komunikasi harmonis harus memperhatikan unsur-unsur komunikasi berikut ini :
- komunikator / pengirim
- komunikan/ penerima
- isi pesan
- umpan balik / komunikasi 2 arah
- kesepakatan
- lungkungan

TIPS KOMUNIKASI VERBAL
1. Persyaratan pengirim (komunikator)
- intonasi = jangan monoton
- Nada = nada suara yg sikaf yg ramah, antusias, penuh emfati, tegas & supel.
- Kecepatan = jangan bicara tergesa-gesa, beri pendengar kesempatan unt mencerna
apa yang dikatakan
- Pengucapan = bicara dengan jelas

2. Persyaratan penerima pesan (komunikan)
- Menerima kehadiran pembawa pesan
- mau mendenggar
- mempunyai minat unt memahami pesan
- mau berfikir dr sudut pandang pembawa pesan
3. Persyaratan isi pesan
Inti pesan mudah dipahami penerima pesan kalimat harus jelas dan singkat
4. persyaratan lingkungan
- adanya tempat yg nyaman unt menyampaikan pesan
- tidak terganggu suara bising
- suhu nyaman
- tidak ada aroma yg terlalu menyengat
5. persyaratan komunikasi 2 arah :
- pengirim dan penerima pesan aktif
- memahami masalah unt mendptkan kesepakatan
6. persyaratan kesepakatan
- ada kesepakatan antara pengirim dan penerima pesan

TIPS-TIPS UMUM UNT MENJALIN KOMUNIKASI HARMONIS
- temukan orang yg tepat untuk brkomunikasi
- orang yg diajak berkomunikasi mau benar2 mendengar
- berusaha tidak menyakiti hati orang yg diajak berkomunikasi
- berusaha memahami sudut pandang orang lain
- mau menerima masukan dari lawan bicara
- di akhir komunikasi ada kesepakatan

Hambatan dalam berkomunikasi => perbedaan persepsi <= perbedaan kepribadian

TIPS BERKOMUNIKASI DNGN TIPE KEPRIBADIAN TERTENTU
D = (DRIVER/ DOMINENT)
- jelas, spesifik, to the point
- menangani masalah sesuai dngn fakta yg ada
- memberikan win2 solution/pilihan solusi
I = (TERBUKA/INFLUENCER)
- memeberikan kesempatan menumpahkan perasaannya
- menanyakan pendapat dahulu, baru memberikan usulan
- memberi kesan cepat dan berperasaan
S = (KALEM/STEADINESS)
- menunjukan perhatian, sabar (memberi waktu berfikir)
- menyodorkan solusi dngn hari2/ tdk mengancam
- memberi jaminan/ dukungan pribadi
C = (AKURAT/COMPLIANCE)
- melihat segala aspek dr suatu masalah (sistemik)
- samaikan dngn detil/ terstruktur, berbicara dngn data dan fakta
- sepakati batas waktu dan ukuran pencapaian.

PRINSIP2 DALAM KOMUNIKASI
- bersikap netral
- mendngar secara aktif
- memilih metafora/ gaya yang tepat
- tdk kasar
- berusaha tdk menjatuhkan orang lain
- mengurangi ketegangan dan meningkatkan rasa saling memahami

Jenis-jenis Komunikasi

JENIS-JENIS KOMUNIKASI

Jenis komunikasi terdiri dari :
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh


Komunikasi Verbal Mencakup Aspek:
• Vocabulary (Perbendaharaan kata-kata)
Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi
• Racing (Kecepatan)
Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat
• Intonasi suara
Akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam komunikasi
• Humor
Dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia.Dugan (1989) memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri.Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus ada selingan dalam berkomunikasi
• Singkat dan jelas
Komunikasi akan effektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti
• Timing (waktu yang tepat)
adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan

Komunikasi Non Verbal
• Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal


Yang Termasuk komunikasi non verbal:
• Ekspresi Wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang
• Kontak mata
Merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinteraksi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan.Melalui kontak mata juga memberi kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya.
• Sentuhan
adalah bentuk komunikasi personal, mengingat sentuhan lebih bersifat spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan
• Postur tubuh dan Gaya Berjalan
Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya.Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri dan tingkat kesehatannya
• Sound (Suara)
Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi menjadi pesan yang sangat jelas
• Gerak Isyarat
adalah yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetuk kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress, bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress

Hambatan Dalam Komunikasi

Hambatan Dalam Komunikasi

Beberapa Hambatan Dalam Komunikasi
1. Keterbatasan waktu
2. Jarak Psychologis
3. Bahasa
4. Adanya evaluasi terlalu dini
5. Lingkungan Yang tidak mendukung
6. Keadaan si komunikator
7. Keadaan si penerima pesan (komunikan)


Keterbatasan Waktu
 Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau berkomunikasi secara tergesa-gesa yang tentunya tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi


Jarak Psychologis
 Jarak Psycologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status yaitu status sosial maupun status dalam pekerjaan
 Misalnya seorang pesuruh akan sulit berkomunikasi dengan seorang yang status sosialnya diatas mereka
 Selanjutnya ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang ia senangi saja sedangkan informasi lain tidak


Bahasa
 Yang dimaksud dengan bahasa adalah semua bentuk yang digunakan dalam proses penyampaian berita yaitu bahasa lisan,tulisan,gerak-gerik dsb
 Bahasa yang digunakan akan menunjukkan tingkat intelektualitas seseorang sehingga orang yang mempunyai intelektual yang tinggi akan cenderung menggunakan bahasa yang tinggi dan sebaliknya.


Adanya Evaluasi terlalu dini
 Seringkali orang sudah mempunyai prasangka atau sudah menarik suatu kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini jelas akan menghambat komunikasi yang baik


Lingkungan yang tidak mendukung
 Keadaan suhu
 Keadaan yang ribut / bising
 Lingkungan fisik yang tidak mendukung


Keadaan si Komunikator
 Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap berhasil atau gagalnya komuniaksi misalnya :
- Tulisan yang tidak terbaca, dua pesan yang disampaikan bersamaan dan berebut perhatian penerima pesan dan kadang-kadang pesan yang datang itu bertentangan satu dengan yang lainnya,terlalu banyak gabungan saluran pesan sehingga isi pesan yang diterima menjadi terlalu banyak
- Komunikator sedang mempunyai masalah pribadi hal ini akan mengakibatkan pesan yang disampaikan menjadi kacau , tidak sistematis sehingga membingungkan pendengar atau sasaran
- Komunikator sedang sakit juga akan mempengaruhi komunikasi dll


Keadaan si Komunikan
 Sama dengan komunikator maka keadaan komunikan sangat mempengaruhi pula komunikasi karena ada gangguan fisik misalnya :
- Penerangan,pengilatan,pendengaran,suara terlalu bising,suara tidakterdengar
- Gangguan mental, sulit konsentrasi dan sibuk sendiri , kesehatan fisik (sakit,lelah,tidak ada gairah),latar belakang budaya,pendidikan dan pengalaman penerima pesan jauh berbeda dengan pengirim pesan , perbedaan penafsiran kata antara komunikator dan komunikan
Keadaan atau perasaannya , kesehatan fisiknya dll

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi keberhasilan Komunikasi
 Credibility (Kepercayaan) adanya kepercayaan antara komunikator dengan komunikan
 Context (Perhubungan,pertalian), keberhasilan komunikasi berhubungan erat dengan situasi dan kondisi lingkungan pada waktu komunikasi berlangsung
 Content (Kepuasan) apabila isi berita dapat dimengerti oleh pihak komunikan dan sebaliknya pihak komunikan mau memberikan reaksi,respon kepada pihak komunikator
 Clarity (kejelasan) yang dimaksud disini adalah kejelasan akan isi berita tersebut, kejelasan akan tujuan yang hendak dicapai, kejelasan istilah yang digunakan dalam pengoperan lambang-lambang
 Continuity and consistency (kesinambungan & konsistensi) harus dilakukan secara terus menerus dan jangan saling bertentangan satu dengan yang lainnya
 Capability of audience (kemampuan pihak penerima berita),pengirim berita harus mengetahui kemampuan penerima berita
 Channels of distribution (saluran pengiriman berita) hendaknya digunakan saluran-saluran pengiriman berita yang sudah biasa dipakai dan sudah dikenal oleh umum

Dasar-Dasar Komunikasi

Dasar-Dasar Komunikasi

 Untuk bisa berlangsungnya proses komunikasi dengan baik ada beberapa dasar atau prinsip yang perlu diketahui dan diperhatikan. Dasar-dasar tersebut adalah :
1. Intention (Niat)
2. Attention (Minat)
3. Perception (Pandangan)
4. Retention (Lekat)
5. Participation (Libat)

1.NIAT (Intention)
 Prinsip yang pertama ini menyangkut soal
a. Apa yang akan disampaikan = Ini merupakan hal dasar dan penting. Kita Harus tahu betul dan menguasai apa yang akan menambah kepercayan diri pada yang menyampaikan pesan
b. Siapa sasarannya = Siapa yang kita niatkan untuk diajak berkomunikasi, mengetahui latar belakang orang yang diajak berkomunikasi sangat berguna untuk tercapainya komunikasi yang efektif
c. Apa yang akan dicapai = Harus dijabarkan secara jelas apa yang ingin dicapai sebagai hasil dari komunikasi yang akan diadakan agar nantinya kita bisa menilai apakah komunikasi yang akan dilaksanakan itu mencapai tujuan at tidak
d. Kapan akan disampaikan = -Kapankah waktu yang paling tepat untuk menyampaikan pesan tersebut/ -Kalau yang ingin kita dapat dari hasil komunikasi ini adalah sesuatu tindakan tertentu maka pertanyaan kita adalah berapa lama sebelumnya sebaiknya komunikasi ini dilaksanakan

2. Minat (Attention)
 Apa yang kita komunikasikan haruslah menarik minat atau perhatian orang yang diajak berkomunikasi. Dalam pemilihan ini ada dua faktor yang berpengaruh yaitu :
a. Faktor Obyektif = adalah faktor-faktor yang menyangkut rangsangan yang kita terima yaitu : -Besarnya rangsangan / -Intensitas rangsangan / Gerakan daripada rangsangan / -Baru atau lama./ Aneh at tidak/ berulang x at 1x saja/ berpariasi at monoton.
b. Faktor subyektif adalah faktor yang menyangkut diri si penerima
stimulus bukan menyangkut stimulus itu sendiri
Pada dasarnya kita tertarik akan hal-hal yang:
a. Bisa memenuhi kebutuhan kita
b. Bisa membahayakan kebutuhan kita
c. Mudah kita pahami


a. Memenuhi Kebutuhan Kita
 Kebutuhan dalam hal ini bisa :
a. Fisiologis meliputi :
kebutuhan pokok seperti makan, perumahan, pakaian dan
sex
b. Kebutuhan psychologis meliputi:
- Kebutuhan akan kasih sayang
- Kebutuhan bermasyarakat
- Kebutuhan untuk dihargai
- Kebutuhan akan pendidikan, agama dan lain-lain
b. Membahayakan Kebutuhan Kita
 Seperti halnya diatas,maka hal-hal yang membahayakan kebutuhan akan menarik perhatian kita
 Jadi di dalam berkomunikasi baik informasi tentang sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan kita maupun informasi tentang sesuatu yang membahayakan kebutuhan, kedua-duanya akan menarik perhatian kita
c.Gampang dipahami
 Kalau si penerima pesan merasa bahwa informasi yang diterima adalah sulit, maka ia akan enggan atau tidak berminat untuk memperhatikannya. Sebaliknya kalau dirasakan gampang ia akan tertarik untuk membaca atau melihatnya

3. Pandangan (Perception)
 Makna daripada informasi yang disampaikan kepada sasaran, tergantung pada sasaran.Bagaimana sasaran menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir daripada sasaran
 Kita harus membantu sasaran agar menafsirkan informasi yang kita sampaikan seperti tafsiran kita

4. Lekat (Retention)
 Sebagai komunikator kita sangat mengharapkan agar sasaran dapat menyimpan informasi yang diterima, mengingat dan menggunakannya bila diperlukan. Supaya ingat,pesan harus menarik.Adapun bagaimana supaya pesan menarik sudah dibicarakan diatas.
Ada tiga alasan pokok mengapa orang lupa:
1.Alasan psikologis à yaitu karena tidak suka akan pesan tersebut,malah sering karena tidak suka kepada orang yang menyampaikan pesan itu bisa menyebabkan orang lupa akan pesan tersebut
2.Karena informasi tidak dipergunakan dalam waktu lama hingga ada kecenderungan menghilang atau lupa dan ini disebut dengan ingatan mengabur (fading)
3.Informasi baru, mempunyai kecenderungan mengaburkan atau menghilangkan informasi yang lama yang belum mantap melekat di dalam ingatan seseorang. Ini disebut blocking
Bagaimana cara mencegah lupa
1.Mencegah lupa kerena alasan psikologis
 Binalah hubungan baik dengan sasaran. Tentulah sulit membina hubungan baik dengan sasaran satu persatu apalagi dalam komunikasi massa
2.Mencegah Fading
Untuk mencegah fading ini maka informasi yang disampaikan haruslah segera dipraktekkan.
- Sampaikan informasi kepada sasaran
- Adakan penjajagan (evaluasi) apakah sasaran betul-betul mengerti apa yang diterimanya misalnya dengan mengadakan tanya jawab
- Mintalah sasaran mempraktekannya
- Review tentang pelaksanaannya apakah sudah betul
- Jangan berikan informasi baru sebelum informasi yang lama diterapkan dengan benar
- Ulangilah informasi yang lama bilamana perlu
Jadi dalam hal ini pergunakan prinsip
- Pengulangan (repetition) dan
- Keterlibatan secara aktif daripada sasaran (partisipasi)
3. Mencegah Blocking
Jika blocking disebabkan karena terlalu padatnya informasi,maka caranya mencegah ada beberapa cara:
a. Jangan sampaikan terlalu banyak informasi dalam suatu waktu
b. Beri kesempatan kepada penerima pesan untuk mengendapkan pesan-pesan tadi sebelum pesan-pesan berikutnya disampaikan
c. Jangan terlalu banyak memberikan informasi yang kurang ada kaitanya

5. Libat (Participation)
 Libat atau partisipasi ini harus selalu diusahakan pada setiap tahap dari setiap proses komunikasi

Bentuk Komunikasi

BENTUK KOMUNIKASI

A. Komunikasi sebagai Suatu Proses
1. Komunikasi Primer atau Langsung
• Komunikasi tanpa menggunakan alat perantara
• Komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan penerima pesan dengan cara tatap muka misalnya kita berbicara langsung dengan seseorang dihadapan kita
2. Komunikasi Skunder atau tidak langsung
Yaitu komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan penerima pesan yang tidak berhadapan muka, tetapi dipisahkan jarak dan waktu
Misalnya : Penulis buku dengan pembacanya

B. Berdasarkan Arah Pesan
1. Komunikasi Satu arah
 Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran. Disini sasaran tidak bisa atau tidak ada kesempatan untuk memberi umpan balik atau bertanya
 Komunikasi lewat media massa seperti radio, televisi, surat kabar dll
 Pada suatu ceramah, penceramah tidak memberi kesempatan kepada hadirin untuk bertanya
• Keuntungan
Komunikasi bisa berlangsung cepat karena tidak terganggu oleh tanya
jawab yang sering kali berkelanjutan serta bertele-tele jika tidak bijaksana menanganinya
• Kerugian
Kemungkinan sasaran salah menafsirkan pesan yang diterima cukup besar karena sasaran tidak bisa minta penjelasan
A B
2. Komunikasi Timbal Balik
 Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran, kemudian sasaran setelah menerima pesan tersebut memberi umpan balik kepada sumber
 Kebaikannya : mengurangi salah tafsir dan bisa membina keakraban karena adanya timbal balik
 Keburukannya: Kalau tidak dikendalikan secara baik bisa berlarut-larut hingga makan banyak waktu
A B

C. Berdasarkan Sifat Interaksi Antara Komunikator dengan Komunikan
1. Komunikasi Massa
Disini komunikasi/interaksi berjalan secara tidak langsung melalui media dan sifatnya satu arah dan sasarannya adalah massa
2. Komunikasi Antar Personal
Disini komunikator berkomunikasi dengan seseorang atau sekelompok komunikan dengan efek dan umpan balik langsung

D. Berdasarkan cara Penyampaian Pesan
• Komunikasi lisan : Pesan atau informasi disampaikan dengan melalui lisan
• Komunikasi tertulis : Pesan-pesan disampaikan dengan melalui tulisan
Bentuk Komunisi lainnya
1. Komunikasi berantai
Yaitu proses penyampaian pesan secara berantai
A B C D E

2. Komunikasi Sosial
Komunikasi sosial biasanya berbentuk komunikasi langsung dan karenanya bersifat lisan, komunikasi sosial selalu mempunyai pengaruh dan akibatnya atas kehidupan suatu kelompokn sosial, terjadi dan dilaksanakan berdasarkan norma yg berlaku di masyarakat

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
A. Faktor Komunikator
Komunikator sebagai sumber pesan merupakan prakarsa terjadinya proses komunikasi.
Kelancaran proses komunikasi itu sangat dipengaruhi oleh faktor komunikator seperti :
- Ketrampilan komunikator
- Sikap komunikator
- pengetahuan komunikator
- Kondisi tubuh komunikator
B. Faktor Penerima Pesan
Beberapa hal yang mempengaruhi faktor penerima pesan adalah :
- Ketrampilan Berkomunikasi
- Sikap penerima pesan
- pengetahuan penerima pesan
- Keadaan alat indera penerima pesan
3. Sistem Sosial
Dalam proses komunikasi baik komunikator maupun komunikan harus memperhatikan sistem sosial yang ada. Bagi seorang komunikator ia harus memperhatikan sistem sosial dari penerima pesan seperti norma agama, nilai serta kebiasaan-kebiasaan mereka