www.ziddu.com

Jumat, 17 September 2010

Komunikasi Interpersonal

KOMUNIKASI INTERPERSONAL
Pengertian komunikasi Interpersonal
Kita dapat memahami makna atau pengertian dari komunikasi interpersonal dengan mudah jika sebelumnya kita sudah memahami makna atau pengertian dari komunikasi intrapersonal. Seperti menganonimkan saja, komunikasi intrapersonal dapat diartikan sebagai penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Jadi dapat diartikan bahwa komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang membutuhkan pelaku atau personal lebih dari satu orang. R Wayne Pace mengatakan bahwa komunikasi interpersonal adalah Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka.
Komunikasi Interpersonal menuntut berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi jenis ini dibagi lagi menjadi komunikasi diadik, komunikasi publik, dan komunikasi kelompok kecil.
Komunikasi Interpersonal juga berlaku secara kontekstual bergantung kepada keadaan, budaya, dan juga konteks psikologikal. Cara dan bentuk interaksi antara individu akan tercorak mengikuti keadaan-keadaan ini.
Sistem Komunikasi Interpersonal
Menurut Drs. Jalaluddin Rahmat, M.Sc. lewat bukunya yang berjudul Psikologi Komunikasi, beliau menjelaskan tentang sistem dalam komunikasi interpersonal seperti:
• Persepsi Interpersonal
• Konsep Diri
• Atraksi Interpersonal
• Hubungan Interpersonal.
Dalam tulisan ini, Tim Penulis hanya menjelaskan point hubungan interpersonalnya saja. Karena Tim Penulis beranggapan, pembahasannya terlalu rumit dan dianggap dalam point hubungan interpersonal pembahasannya jelas sehingga mudah dimengerti.
Hubungan Interpersonal
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Kegagalan komunikasi sekunder terjadi, bila isi pesan kita dipahami, tetapi hubungan di antara komunikan menjadi rusak. Anita Taylor mengatakan Komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur, tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting.
Untuk menumbuhkan dan meningkatkan hubungan interpersonal, kita perlu meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal adalah:
1. Percaya (trust)
Bila seseorang punya perasaan bahwa dirinya tidak akan dirugikan, tidak akan dikhianati, maka orang itu pasti akan lebih mudah membuka dirinya. Percaya pada orang lain akan tumbuh bila ada faktor-faktor sebagai berikut:
a. Karakteristik dan maksud orang lain, artinya orang tersebut memiliki kemampuan, keterampilan, pengalaman dalam bidang tertentu. Orang itu memiliki sifat-sifat bisa diduga, diandalkan, jujur dan konsisten.
b. Hubungan kekuasaan, artinya apabila seseorang mempunyai kekuasaan terhadap orang lain, maka orang itu patuh dan tunduk.
c. Kualitas komunikasi dan sifatnya mengambarkan adanya keterbukaan. Bila maksud dan tujuan sudah jelas, harapan sudah dinyatakan, maka sikap percaya akan muncul.
2. Perilaku suportif akan meningkatkan kualitas komunikasi. Beberapa ciri perilaku suportif yaitu:
a. Evaluasi dan deskripsi: maksudnya, kita tidak perlu memberikan kecaman atas kelemahan dan kekurangannya.
b. Orientasi maslah: mengkomunikasikan keinginan untuk kerja sama, mencari pemecahan masalah. Mengajak orang lain bersama-sama menetapkan tujuan dan menetukan cra mencapai tujuan.
c. Spontanitas: sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif yang pendendam.
d. Empati: menganggap orang lain sebagai persona.
e. Persamaan: tidak mempertegas perbedaan, komunikasi tidak melihat perbedaan walaupun status berbeda, penghargaan dan rasa hormat terhadap perbedaan-perbedaan pandangan dan keyakinan.
f. Profesionalisme: kesediaan untuk meninjau kembali pendapat sendiri.
3. Sikap terbuka, kemampuan menilai secara obyektif, kemampuan membedakan dengan mudah, kemampuan melihat nuansa, orientasi ke isi, pencarian informasi dari berbagai sumber, kesediaan mengubah keyakinannya, profesional dll.
Komunikasi ini dapat dihalangi oleh gangguan komunikasi dan oleh kesombongan, sifat malu dll.
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah komunikasi antara individu-individu (Littlejohn, 1999).
Bentuk khusus dari komunikasi antarpribadi ini adalah komunikasi diadik yang melibatkan hanya dua orang secara tatap-muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal, seperti suami-isteri, dua sejawat, dua sahabat dekat, seorang guru dengan seorang muridnya, dan sebagainya.
Steward L. Tubbs dan Sylvia Moss (dalam Deddy Mulyana, 2005) mengatakan ciri-ciri komunikasi diadik adalah:
• Peserta komunikasi berada dalam jarak yang dekat;
• Peserta komunikasi mengirim dan menerima pesan secara simultan dan spontan, baik secara verbal maupun nonverbal.
Komunikasi antarpribadi sangat potensial untuk menjalankan fungsi instrumental sebagai alat untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain, karena kita dapat menggunakan kelima lat indera kita untuk mempertinggi daya bujuk pesan yang kita komunikasikan kepada komunikan kita. Sebagai komunikasi yang paling lengkap dan paling sempurna, komunikasi antarpribadi berperan penting hingga kapanpun, selama manusia masih mempunyai emosi. Kenyataannya komunikasi tatap-muka ini membuat manusia merasa lebih akrab dengan sesamanya, berbeda dengan komunikasi lewat media massa seperti surat kabar, televisi, ataupun lewat teknologi tercanggihpun.
Jalaludin Rakhmat (1994) meyakini bahwa komunikasi antarpribadi dipengaruhi oleh persepsi interpersonal; konsep diri; atraksi interpersonal; dan hubungan interpersonal.
• Persepsi interpersonal
Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi, atau menafsirkan informasi inderawi. Persepi interpersonal adalah memberikan makna terhadap stimuli inderawi yang berasal dari seseorang(komunikan), yang berupa pesan verbal dan nonverbal. Kecermatan dalam persepsi interpersonal akan berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi, seorang peserta komunikasi yang salah memberi makna terhadap pesan akan mengakibat kegagalan komunikasi.
• Konsep diri
Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita. Konsep diri yang positif, ditandai dengan lima hal, yaitu: a. Yakin akan kemampuan mengatasi masalah; b. Merasa stara dengan orang lain; c. Menerima pujian tanpa rasa malu; d. Menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat; e. Mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubah. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:
1. Nubuat yang dipenuhi sendiri. Karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya. Bila seseorang mahasiswa menganggap dirinya sebagai orang yang rajin, ia akan berusaha menghadiri kuliah secara teratur, membuat catatan yang baik, mempelajari materi kuliah dengan sungguh-sungguh, sehingga memperoleh nilai akademis yang baik.
2. Membuka diri. Pengetahuan tentang diri kita akan meningkatkan komunikasi, dan pada saat yang sama, berkomunikasi dengan orang lain meningkatkan pengetahuan tentang diri kita. Dengan membuka diri, konsep diri menjadi dekat pada kenyataan. Bila konsep diri sesuai dengan pengalaman kita, kita akan lebih terbuka untuk menerima pengalaman-pengalaman dan gagasan baru.
3. Percaya diri. Ketakutan untuk melakukan komunikasi dikenal sebagai communication apprehension. Orang yang aprehensif dalam komunikasi disebabkan oleh kurangnya rasa percaya diri. Untuk menumbuhkan percaya diri, menumbuhkan konsep diri yang sehat menjadi perlu.
4. Selektivitas. Konsep diri mempengaruhi perilaku komunikasi kita karena konsep diri mempengaruhi kepada pesan apa kita bersedia membuka diri (terpaan selektif), bagaimana kita mempersepsi pesan (persepsi selektif), dan apa yang kita ingat (ingatan selektif). Selain itu konsep diri juga berpengaruh dalam penyandian pesan (penyandian selektif).
• Atraksi interpersonal
Atraksi interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Komunkasi antarpribadi dipengaruhi atraksi interpersonal dalam hal:
1. Penafsiran pesan dan penilaian. Pendapat dan penilaian kita terhadap orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional, kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang, kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
2. Efektivitas komunikasi. Komunikasi antarpribadi dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila kita berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan kita, kita akan gembira dan terbuka. Bila berkumpul dengan denganorang-orang yang kita benci akan membuat kita tegang, resah, dan tidak enak. Kita akan menutup diri dan menghindari komunikasi.
• Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan antara seseorang dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang baik akan menumbuhkan derajad keterbukaan orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung di antara peserta komunikasi. Miller (1976) dalam Explorations in Interpersonal Communication, menyatakan bahwa ”Memahami proses komunikasi interpersonal menuntut hubungan simbiosis antara komunikasi dan perkembangan relasional, dan pada gilirannya (secara serentak), perkembangan relasional mempengaruhi sifat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan tersebut.”
Lebih jauh, Jalaludin Rakhmat (1994) memberi catatan bahwa terdapat tiga faktor dalam komunikasi antarpribadi yang menumbuhkan hubungan interpersonal yang baik, yaitu: a. Percaya; b. sikap suportif; dan c. sikap terbuka.
Daftar pustaka
Deddy Mulyana, 2005, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Jalaludin Rakhmat, 1994, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Littlejohn, 1999, Theories of Human Communication, Belmont, California: Wadsworth Publishing Company.

Komunikasi Harmonis

Komunikasi Harmonis

Proses penyampaian pesan antara pengirim & penerima pesan dilandaskan Rasa saling memahami & melengkapi unt mencapai kesepahaman antara pengirim dan penerima pesan.
Komunikasi yg harmonis dibangun atas dasar hubungan manusiawi yg utuh dari berbagai dimensi.
Bukan pada hubungan formalitas apalagi hiasan bibir semata.

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA TERTULIS
- menggunakan tulisan yg mudah dibaca
- menggunakan kata-kata yg sederhana, umum dan tidak bertele-tele
- fokus pd pesan yg ingin disampaikan
- beri ilustrasi (bagian,denah, sketsa) bila perlu.

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA NON VERBAL
- pastikan penerima pesan mengerti isyarat yg digunakan
- pergunakan semua indera secara maksimal

TIPS BERKOMUNIKASI SECARA VERBAL
Supaya komunikasi harmonis harus memperhatikan unsur-unsur komunikasi berikut ini :
- komunikator / pengirim
- komunikan/ penerima
- isi pesan
- umpan balik / komunikasi 2 arah
- kesepakatan
- lungkungan

TIPS KOMUNIKASI VERBAL
1. Persyaratan pengirim (komunikator)
- intonasi = jangan monoton
- Nada = nada suara yg sikaf yg ramah, antusias, penuh emfati, tegas & supel.
- Kecepatan = jangan bicara tergesa-gesa, beri pendengar kesempatan unt mencerna
apa yang dikatakan
- Pengucapan = bicara dengan jelas

2. Persyaratan penerima pesan (komunikan)
- Menerima kehadiran pembawa pesan
- mau mendenggar
- mempunyai minat unt memahami pesan
- mau berfikir dr sudut pandang pembawa pesan
3. Persyaratan isi pesan
Inti pesan mudah dipahami penerima pesan kalimat harus jelas dan singkat
4. persyaratan lingkungan
- adanya tempat yg nyaman unt menyampaikan pesan
- tidak terganggu suara bising
- suhu nyaman
- tidak ada aroma yg terlalu menyengat
5. persyaratan komunikasi 2 arah :
- pengirim dan penerima pesan aktif
- memahami masalah unt mendptkan kesepakatan
6. persyaratan kesepakatan
- ada kesepakatan antara pengirim dan penerima pesan

TIPS-TIPS UMUM UNT MENJALIN KOMUNIKASI HARMONIS
- temukan orang yg tepat untuk brkomunikasi
- orang yg diajak berkomunikasi mau benar2 mendengar
- berusaha tidak menyakiti hati orang yg diajak berkomunikasi
- berusaha memahami sudut pandang orang lain
- mau menerima masukan dari lawan bicara
- di akhir komunikasi ada kesepakatan

Hambatan dalam berkomunikasi => perbedaan persepsi <= perbedaan kepribadian

TIPS BERKOMUNIKASI DNGN TIPE KEPRIBADIAN TERTENTU
D = (DRIVER/ DOMINENT)
- jelas, spesifik, to the point
- menangani masalah sesuai dngn fakta yg ada
- memberikan win2 solution/pilihan solusi
I = (TERBUKA/INFLUENCER)
- memeberikan kesempatan menumpahkan perasaannya
- menanyakan pendapat dahulu, baru memberikan usulan
- memberi kesan cepat dan berperasaan
S = (KALEM/STEADINESS)
- menunjukan perhatian, sabar (memberi waktu berfikir)
- menyodorkan solusi dngn hari2/ tdk mengancam
- memberi jaminan/ dukungan pribadi
C = (AKURAT/COMPLIANCE)
- melihat segala aspek dr suatu masalah (sistemik)
- samaikan dngn detil/ terstruktur, berbicara dngn data dan fakta
- sepakati batas waktu dan ukuran pencapaian.

PRINSIP2 DALAM KOMUNIKASI
- bersikap netral
- mendngar secara aktif
- memilih metafora/ gaya yang tepat
- tdk kasar
- berusaha tdk menjatuhkan orang lain
- mengurangi ketegangan dan meningkatkan rasa saling memahami

Jenis-jenis Komunikasi

JENIS-JENIS KOMUNIKASI

Jenis komunikasi terdiri dari :
1. Komunikasi verbal dengan kata-kata
2. Komunikasi non verbal disebut dengan bahasa tubuh


Komunikasi Verbal Mencakup Aspek:
• Vocabulary (Perbendaharaan kata-kata)
Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi
• Racing (Kecepatan)
Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat
• Intonasi suara
Akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam komunikasi
• Humor
Dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia.Dugan (1989) memberikan catatan bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri.Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus ada selingan dalam berkomunikasi
• Singkat dan jelas
Komunikasi akan effektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti
• Timing (waktu yang tepat)
adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan

Komunikasi Non Verbal
• Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal


Yang Termasuk komunikasi non verbal:
• Ekspresi Wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang
• Kontak mata
Merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinteraksi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan.Melalui kontak mata juga memberi kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya.
• Sentuhan
adalah bentuk komunikasi personal, mengingat sentuhan lebih bersifat spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan
• Postur tubuh dan Gaya Berjalan
Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya.Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri dan tingkat kesehatannya
• Sound (Suara)
Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi menjadi pesan yang sangat jelas
• Gerak Isyarat
adalah yang dapat mempertegas pembicaraan. Menggunakan isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetuk-ngetuk kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stress, bingung atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress

Hambatan Dalam Komunikasi

Hambatan Dalam Komunikasi

Beberapa Hambatan Dalam Komunikasi
1. Keterbatasan waktu
2. Jarak Psychologis
3. Bahasa
4. Adanya evaluasi terlalu dini
5. Lingkungan Yang tidak mendukung
6. Keadaan si komunikator
7. Keadaan si penerima pesan (komunikan)


Keterbatasan Waktu
 Sering karena keterbatasan waktu orang tidak berkomunikasi, atau berkomunikasi secara tergesa-gesa yang tentunya tidak akan memenuhi persyaratan-persyaratan komunikasi


Jarak Psychologis
 Jarak Psycologis biasanya terjadi akibat adanya perbedaan status yaitu status sosial maupun status dalam pekerjaan
 Misalnya seorang pesuruh akan sulit berkomunikasi dengan seorang yang status sosialnya diatas mereka
 Selanjutnya ada orang yang hanya ingin mendengar informasi yang ia senangi saja sedangkan informasi lain tidak


Bahasa
 Yang dimaksud dengan bahasa adalah semua bentuk yang digunakan dalam proses penyampaian berita yaitu bahasa lisan,tulisan,gerak-gerik dsb
 Bahasa yang digunakan akan menunjukkan tingkat intelektualitas seseorang sehingga orang yang mempunyai intelektual yang tinggi akan cenderung menggunakan bahasa yang tinggi dan sebaliknya.


Adanya Evaluasi terlalu dini
 Seringkali orang sudah mempunyai prasangka atau sudah menarik suatu kesimpulan sebelum menerima keseluruhan informasi atau pesan. Hal ini jelas akan menghambat komunikasi yang baik


Lingkungan yang tidak mendukung
 Keadaan suhu
 Keadaan yang ribut / bising
 Lingkungan fisik yang tidak mendukung


Keadaan si Komunikator
 Keadaan fisik dan perasaan komunikator sangat berpengaruh terhadap berhasil atau gagalnya komuniaksi misalnya :
- Tulisan yang tidak terbaca, dua pesan yang disampaikan bersamaan dan berebut perhatian penerima pesan dan kadang-kadang pesan yang datang itu bertentangan satu dengan yang lainnya,terlalu banyak gabungan saluran pesan sehingga isi pesan yang diterima menjadi terlalu banyak
- Komunikator sedang mempunyai masalah pribadi hal ini akan mengakibatkan pesan yang disampaikan menjadi kacau , tidak sistematis sehingga membingungkan pendengar atau sasaran
- Komunikator sedang sakit juga akan mempengaruhi komunikasi dll


Keadaan si Komunikan
 Sama dengan komunikator maka keadaan komunikan sangat mempengaruhi pula komunikasi karena ada gangguan fisik misalnya :
- Penerangan,pengilatan,pendengaran,suara terlalu bising,suara tidakterdengar
- Gangguan mental, sulit konsentrasi dan sibuk sendiri , kesehatan fisik (sakit,lelah,tidak ada gairah),latar belakang budaya,pendidikan dan pengalaman penerima pesan jauh berbeda dengan pengirim pesan , perbedaan penafsiran kata antara komunikator dan komunikan
Keadaan atau perasaannya , kesehatan fisiknya dll

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi keberhasilan Komunikasi
 Credibility (Kepercayaan) adanya kepercayaan antara komunikator dengan komunikan
 Context (Perhubungan,pertalian), keberhasilan komunikasi berhubungan erat dengan situasi dan kondisi lingkungan pada waktu komunikasi berlangsung
 Content (Kepuasan) apabila isi berita dapat dimengerti oleh pihak komunikan dan sebaliknya pihak komunikan mau memberikan reaksi,respon kepada pihak komunikator
 Clarity (kejelasan) yang dimaksud disini adalah kejelasan akan isi berita tersebut, kejelasan akan tujuan yang hendak dicapai, kejelasan istilah yang digunakan dalam pengoperan lambang-lambang
 Continuity and consistency (kesinambungan & konsistensi) harus dilakukan secara terus menerus dan jangan saling bertentangan satu dengan yang lainnya
 Capability of audience (kemampuan pihak penerima berita),pengirim berita harus mengetahui kemampuan penerima berita
 Channels of distribution (saluran pengiriman berita) hendaknya digunakan saluran-saluran pengiriman berita yang sudah biasa dipakai dan sudah dikenal oleh umum

Dasar-Dasar Komunikasi

Dasar-Dasar Komunikasi

 Untuk bisa berlangsungnya proses komunikasi dengan baik ada beberapa dasar atau prinsip yang perlu diketahui dan diperhatikan. Dasar-dasar tersebut adalah :
1. Intention (Niat)
2. Attention (Minat)
3. Perception (Pandangan)
4. Retention (Lekat)
5. Participation (Libat)

1.NIAT (Intention)
 Prinsip yang pertama ini menyangkut soal
a. Apa yang akan disampaikan = Ini merupakan hal dasar dan penting. Kita Harus tahu betul dan menguasai apa yang akan menambah kepercayan diri pada yang menyampaikan pesan
b. Siapa sasarannya = Siapa yang kita niatkan untuk diajak berkomunikasi, mengetahui latar belakang orang yang diajak berkomunikasi sangat berguna untuk tercapainya komunikasi yang efektif
c. Apa yang akan dicapai = Harus dijabarkan secara jelas apa yang ingin dicapai sebagai hasil dari komunikasi yang akan diadakan agar nantinya kita bisa menilai apakah komunikasi yang akan dilaksanakan itu mencapai tujuan at tidak
d. Kapan akan disampaikan = -Kapankah waktu yang paling tepat untuk menyampaikan pesan tersebut/ -Kalau yang ingin kita dapat dari hasil komunikasi ini adalah sesuatu tindakan tertentu maka pertanyaan kita adalah berapa lama sebelumnya sebaiknya komunikasi ini dilaksanakan

2. Minat (Attention)
 Apa yang kita komunikasikan haruslah menarik minat atau perhatian orang yang diajak berkomunikasi. Dalam pemilihan ini ada dua faktor yang berpengaruh yaitu :
a. Faktor Obyektif = adalah faktor-faktor yang menyangkut rangsangan yang kita terima yaitu : -Besarnya rangsangan / -Intensitas rangsangan / Gerakan daripada rangsangan / -Baru atau lama./ Aneh at tidak/ berulang x at 1x saja/ berpariasi at monoton.
b. Faktor subyektif adalah faktor yang menyangkut diri si penerima
stimulus bukan menyangkut stimulus itu sendiri
Pada dasarnya kita tertarik akan hal-hal yang:
a. Bisa memenuhi kebutuhan kita
b. Bisa membahayakan kebutuhan kita
c. Mudah kita pahami


a. Memenuhi Kebutuhan Kita
 Kebutuhan dalam hal ini bisa :
a. Fisiologis meliputi :
kebutuhan pokok seperti makan, perumahan, pakaian dan
sex
b. Kebutuhan psychologis meliputi:
- Kebutuhan akan kasih sayang
- Kebutuhan bermasyarakat
- Kebutuhan untuk dihargai
- Kebutuhan akan pendidikan, agama dan lain-lain
b. Membahayakan Kebutuhan Kita
 Seperti halnya diatas,maka hal-hal yang membahayakan kebutuhan akan menarik perhatian kita
 Jadi di dalam berkomunikasi baik informasi tentang sesuatu yang bisa memenuhi kebutuhan kita maupun informasi tentang sesuatu yang membahayakan kebutuhan, kedua-duanya akan menarik perhatian kita
c.Gampang dipahami
 Kalau si penerima pesan merasa bahwa informasi yang diterima adalah sulit, maka ia akan enggan atau tidak berminat untuk memperhatikannya. Sebaliknya kalau dirasakan gampang ia akan tertarik untuk membaca atau melihatnya

3. Pandangan (Perception)
 Makna daripada informasi yang disampaikan kepada sasaran, tergantung pada sasaran.Bagaimana sasaran menafsirkan informasi yang diterima tergantung pada pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan kerangka pikir daripada sasaran
 Kita harus membantu sasaran agar menafsirkan informasi yang kita sampaikan seperti tafsiran kita

4. Lekat (Retention)
 Sebagai komunikator kita sangat mengharapkan agar sasaran dapat menyimpan informasi yang diterima, mengingat dan menggunakannya bila diperlukan. Supaya ingat,pesan harus menarik.Adapun bagaimana supaya pesan menarik sudah dibicarakan diatas.
Ada tiga alasan pokok mengapa orang lupa:
1.Alasan psikologis à yaitu karena tidak suka akan pesan tersebut,malah sering karena tidak suka kepada orang yang menyampaikan pesan itu bisa menyebabkan orang lupa akan pesan tersebut
2.Karena informasi tidak dipergunakan dalam waktu lama hingga ada kecenderungan menghilang atau lupa dan ini disebut dengan ingatan mengabur (fading)
3.Informasi baru, mempunyai kecenderungan mengaburkan atau menghilangkan informasi yang lama yang belum mantap melekat di dalam ingatan seseorang. Ini disebut blocking
Bagaimana cara mencegah lupa
1.Mencegah lupa kerena alasan psikologis
 Binalah hubungan baik dengan sasaran. Tentulah sulit membina hubungan baik dengan sasaran satu persatu apalagi dalam komunikasi massa
2.Mencegah Fading
Untuk mencegah fading ini maka informasi yang disampaikan haruslah segera dipraktekkan.
- Sampaikan informasi kepada sasaran
- Adakan penjajagan (evaluasi) apakah sasaran betul-betul mengerti apa yang diterimanya misalnya dengan mengadakan tanya jawab
- Mintalah sasaran mempraktekannya
- Review tentang pelaksanaannya apakah sudah betul
- Jangan berikan informasi baru sebelum informasi yang lama diterapkan dengan benar
- Ulangilah informasi yang lama bilamana perlu
Jadi dalam hal ini pergunakan prinsip
- Pengulangan (repetition) dan
- Keterlibatan secara aktif daripada sasaran (partisipasi)
3. Mencegah Blocking
Jika blocking disebabkan karena terlalu padatnya informasi,maka caranya mencegah ada beberapa cara:
a. Jangan sampaikan terlalu banyak informasi dalam suatu waktu
b. Beri kesempatan kepada penerima pesan untuk mengendapkan pesan-pesan tadi sebelum pesan-pesan berikutnya disampaikan
c. Jangan terlalu banyak memberikan informasi yang kurang ada kaitanya

5. Libat (Participation)
 Libat atau partisipasi ini harus selalu diusahakan pada setiap tahap dari setiap proses komunikasi

Bentuk Komunikasi

BENTUK KOMUNIKASI

A. Komunikasi sebagai Suatu Proses
1. Komunikasi Primer atau Langsung
• Komunikasi tanpa menggunakan alat perantara
• Komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan penerima pesan dengan cara tatap muka misalnya kita berbicara langsung dengan seseorang dihadapan kita
2. Komunikasi Skunder atau tidak langsung
Yaitu komunikasi yang terjadi antara komunikator dengan penerima pesan yang tidak berhadapan muka, tetapi dipisahkan jarak dan waktu
Misalnya : Penulis buku dengan pembacanya

B. Berdasarkan Arah Pesan
1. Komunikasi Satu arah
 Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran. Disini sasaran tidak bisa atau tidak ada kesempatan untuk memberi umpan balik atau bertanya
 Komunikasi lewat media massa seperti radio, televisi, surat kabar dll
 Pada suatu ceramah, penceramah tidak memberi kesempatan kepada hadirin untuk bertanya
• Keuntungan
Komunikasi bisa berlangsung cepat karena tidak terganggu oleh tanya
jawab yang sering kali berkelanjutan serta bertele-tele jika tidak bijaksana menanganinya
• Kerugian
Kemungkinan sasaran salah menafsirkan pesan yang diterima cukup besar karena sasaran tidak bisa minta penjelasan
A B
2. Komunikasi Timbal Balik
 Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran, kemudian sasaran setelah menerima pesan tersebut memberi umpan balik kepada sumber
 Kebaikannya : mengurangi salah tafsir dan bisa membina keakraban karena adanya timbal balik
 Keburukannya: Kalau tidak dikendalikan secara baik bisa berlarut-larut hingga makan banyak waktu
A B

C. Berdasarkan Sifat Interaksi Antara Komunikator dengan Komunikan
1. Komunikasi Massa
Disini komunikasi/interaksi berjalan secara tidak langsung melalui media dan sifatnya satu arah dan sasarannya adalah massa
2. Komunikasi Antar Personal
Disini komunikator berkomunikasi dengan seseorang atau sekelompok komunikan dengan efek dan umpan balik langsung

D. Berdasarkan cara Penyampaian Pesan
• Komunikasi lisan : Pesan atau informasi disampaikan dengan melalui lisan
• Komunikasi tertulis : Pesan-pesan disampaikan dengan melalui tulisan
Bentuk Komunisi lainnya
1. Komunikasi berantai
Yaitu proses penyampaian pesan secara berantai
A B C D E

2. Komunikasi Sosial
Komunikasi sosial biasanya berbentuk komunikasi langsung dan karenanya bersifat lisan, komunikasi sosial selalu mempunyai pengaruh dan akibatnya atas kehidupan suatu kelompokn sosial, terjadi dan dilaksanakan berdasarkan norma yg berlaku di masyarakat

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi
A. Faktor Komunikator
Komunikator sebagai sumber pesan merupakan prakarsa terjadinya proses komunikasi.
Kelancaran proses komunikasi itu sangat dipengaruhi oleh faktor komunikator seperti :
- Ketrampilan komunikator
- Sikap komunikator
- pengetahuan komunikator
- Kondisi tubuh komunikator
B. Faktor Penerima Pesan
Beberapa hal yang mempengaruhi faktor penerima pesan adalah :
- Ketrampilan Berkomunikasi
- Sikap penerima pesan
- pengetahuan penerima pesan
- Keadaan alat indera penerima pesan
3. Sistem Sosial
Dalam proses komunikasi baik komunikator maupun komunikan harus memperhatikan sistem sosial yang ada. Bagi seorang komunikator ia harus memperhatikan sistem sosial dari penerima pesan seperti norma agama, nilai serta kebiasaan-kebiasaan mereka

Konsep Sehat & Sakit

KONSEP SEHAT-SAKIT
A. PENDAHULUAN
Pada masa lalu, sebagian besar individu dan masyarakat memandang sehat dan sakit sebagai sesuatu Hitam atau Putih. Dimana kesehatan merupakan kondisi kebalikan dari penyakit atau kondisi yang terbebas dari penyakit. Anggapan atau sikap yang sederhana ini tentu dapat diterapkan dengan mudah; akan tetapi mengabaikan adanya rentang sehat-sakit.
Pendekatan yang digunakan pada abad ke-21, sehat dipandang dengan perspektif yang lebih luas. Luasnya aspek itu meliputi rasa memiliki kekua¬saan, hubungan kasih sayang, semangat hidup, jaringan dukungan sosial yang kuat, rasa berarti dalam hidup, atau tingkat kemandirian tertentu (Haber, 1994).
B. DEFINISI SEHAT
Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang po¬sitif (Edelman dan Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi ling¬kungan internal dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.
B. MODEL SEHAT SAKIT
1. Model Rentang Sehat-Sakit (Neuman)
Menurut Neuman (1990): ”sehat dalam suatu rentang merupakan tingkat kesejahteraan klien pada waktu tertentu , yang terdapat dalam rentang dan kondisi sejahtera yang optimal , dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian yang menandakan habisnya energi total”
Jadi menurut model ini sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, inteletual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat.
Sedangkan Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya.
Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik tertentu pada skala Rentang Sehat-Sakit.
Dengan model ini perawat dapat menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan rentang sehat-sakitnya. Sehingga faktor resiko klien yang merupakan merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan dalam mengidentifikasi tingkat kesehatan klien. Faktor-faktor resiko itu meliputi variabel genetik dan psikologis.
Kekurangan dari model ini adalah sulitnya menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrim pada rentang itu (Kesejahteraan Tingkat Tinggi – Kematian). Misalnya: apakah seseorang yang mengalami fraktur kaki tapi ia mampu melakukan adaptasi dengan keterbatasan mobilitas, dianggap kurang sehat atau lebih sehat dibandingkan dengan orang yang mempunyai fisik sehat tapi mengalami depresi berat setelah kematian pasangannya.
Model ini efektif jika digunakan untuk membandingkan tingkat kesejahteraan saat ini dengan tingkat kesehatan sebelumnya. Sehingga bermanfaat bagi perawat dalam menentukan tujuan pencapaian tingkat kesehatan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
2. Model Kesejahteraan Tingkat Tinggi (Dunn)
Model yang dikembangkan oleh Dunn (1977) ini berorientasi pada cara memaksimalkan potensi sehat pada individu melalui perubahan perilaku.
Pada pendekatn model ini perawat melakukan intervnsi keperawatan yang dapat membantu klien mengubah perilaku tertentu yang mengandung resiko tinggi terhadap kesehatan
Model ini berhasil diterapkan untuk perawatan lansia, dan juga digunakan dalam keperawatan keluarga maupun komunitas.
3. Model Agen-Pejamu-Lingkungan(Leavell at all.)
Menurut pendekatan model ini tingkat sehat dan sakit individu atau kelompok ditentukan oleh hubungan dinamis antara Agen, Pejamu, dan Lingkungan
Agen :Berbagai faktor internal-eksternal yang dengan atau tanpanya dapat menyebabkan terjadinya penyakit atau sakit. Agen ini bisa bersifat biologis, kimia, fisik, mekanis, atau psikososial.
 jadi Agen ini bisa berupa yang merugikan kesehatan (bakteri, stress) atau yang meningkatkan kesehatan (nutrisi, dll).
Pejamu: Sesorang atau sekelompok orang yang rentan terhadap penyakit/sakit tertentu.
Faktor pejamu antara lain: situasi atau kondisi fisik dan psikososoial yang menyebabkan seseorang yang beresiko menjadi sakit.
Misalnya: Riwayat keluarga, usia, gaya hidup dll.
Lingkungan: seluruh faktor yang ada diluar pejamu.
• Lingkungan fisik: tingkat ekonomi, iklim, kondisi tempat tinggal, penerangan, kebisingan
• Lingkungan sosial: Hal-hal yang berkaitan dengan interaksi sosial, misalnys: stress, konflik, kesulitan ekonomi, krisis hidup.
Model ini menyatakan bahwa sehat dan sakit ditentukan oleh interaksi yang dinamis dari ketiga variabel tersebut. Menurut Berne et al (1990) respon dapat meningkatkan kesehatan atau yang dapat merusak kesehatan berasal dari interaksi antara seseorang atau sekelompok orang dengan lingkungannya.
Selain dalam keperawatan komunitas model ini juga dikembangkan dalam teori umum tentang berbagai penyebab penyakit.
4. Model Keyakinan-Kesehatan
Model Keyakinan-Kesehatan menurut Rosenstoch (1974) dan Becker dan Maiman (1975) menyatakan hubungan antara keyakinan seseorang dengan perilaku yang ditampilkan.
Model ini memberikan cara bagaimana klien akan berprilaku sehubungan dengan kesehatan mereka dan bagaimana mereka mematuhi terapi kesehatan yang diberikan.
Terdapat tiga komponen dari model Keyakinan-Kesehatan antara lain:
a. Persepsi Individu tentang kerentanan dirinya terhadap suatu penyakit.
Misal: seorang klien perlu mengenal adanya pernyakit koroner melalui riwayat keluarganya, apalagi kemudian ada keluarganya yang meninggal maka klien mungkin merasakan resiko mengalami penyakit jantung.
b. Persepsi Individu terhadap keseriusan penyakit tertentu.
Dipengaruhi oleh variabel demografi dan sosiopsikologis, perasaan terancam oleh penyakit, anjuran untuk bertindak (misal: kampanye media massa, anjuran keluarga atau dokter dll)
c. Persepsi Individu tentang manfaat yang diperoleh dari tindakan yang diambil.
Seseorang mungkin mengambil tindakan preventif, dengan mengubah gaya hidup, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi medis, atau mencari pengobatan medis.
5. Model ini membantu perawat memahami berbagai faktor yang dapat mempengaruhi persepsi, keyakinan, dan perilaku klien, serta membantu perawat membuat rencana perawatan yang paling efektif untuk membantu klien, memelihara dan Model Peningkatan-Kesehatan (Pender)
Dikemukakan oleh Pender (1982,1993,1996) yang dibuat untuk menjadi sebuah model yang menyeimbangkan dengan model perlindungan kesehatan.
Fokus dari model ini adalah menjelaskan alasan keterlibatan klien dalam aktivitas kesehatan (kognitif-persepsi dan faktor pengubah).
mengembalikan kesehatan serta mencegah terjadiny penyakit.
Berdasarkan gambar diatas Model ini dapat:
o Mengidentifikasi berbagai faktor (demografik, sosial) yang dapat meningkatkan atau menurunkan partisifasi untuk meningkatkan kesehatan.
Mengatur berbagai tanda kedalam sebuah pola untuk menjelaskan kemungkinan munculnya partsisipasi klien dalam perilaku peningkatan kesehatan
SAKIT DAN PERILAKU SAKIT
Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit.
Oleh karena itu sakit tidak sama dengan penyakit. Sebagai contoh klien dengan Leukemia yang sedang menjalani pengobatan mungkin akan mampu berfungsi seperti biasanya, sedangkan klien lain dengan kanker payudara yang sedang mempersiapkan diri untuk menjalanaio operasi mungkin akan merasakan akibatnya pada dimensi lain, selain dimensi fisik.
Perilaku sakit merupakan perilaku orang sakit yang meliputi: cara seseorang memantau tubuhnya; mendefinisikan dan menginterpretasikan gejala yang dialami; melakukan upaya penyembuhan; dan penggunaan sistem pelayanan kesehatan.
Seorang individu yang merasa dirinya sedang sakit perilaku sakit bisa berfungsi sebagai mekanisme koping.